Terapi
Ozon untuk Pasien Diabetes
Terapi Ozon untuk Pasien Diabetes | Penggunaan ozon dalam dunia medis sudah lama dikenal.
Salah satu penyakit yang bisa menggunakan terapi ini sebagai komplimenter
adalah diabetes. Terbukti efektif dan memuaskan
namun ada syarat yang harus dipenuhi. apa saja?
Dunia belum berakhir saat dokter
mendiagnosa Anda terkena penyakit ini. Selalu masih ada jalan selama menerapkan
pola hidup sehat. Terapi ozon bisa juga dijadikan pilihan untuk penunjang
pengobatan. Memang di Indonesia bisa dibilang baru tapi telah dimanfaatkan
ratusan ribu orang di banyak negara.
Terapi Komplimenter
Banyak cara untuk mengobati penyakit
ini. Salah satu yang bisa ditempuh dengan terapi ozon. Bukan sebagai terapi utama
tapi sebagai terapi komplimenter. Maksudnya, dapat menjadi pendukung yang
efektif bagi pengobatan konvensional yang sedang
dijalankan. Kedua tipe DM dapat
mengikuti terapi ini karena berpotensi menghambat dan mengatasi perkembangan
gejala-gejala diabetes. Bahkan terapi ini dalam situs
stanford center dinyatakan dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah dan
meningkatkan suplai oksigen ke dalam jaringan.
Lebih lanjut dijelaskan, untuk
menurunkan kadar glukosa ozon berperan dalam dua cara. Pertama, dengan
menstimulasi terjadinya proses enzimatik dalam tubuh. Kedua, dengan memicu
produksi glutation, yang merupakan hasil tambahan dari proses sebelumnya.
Glutation ini berfungsi membentuk glikogen (cadangan tenaga) dan lemak dari
glukose. Dalam terapi ini proses pembentukan glukosa dari protein dan pemecahan
glikogen dihambat. Sehingga seluruh proses ini menurunkan kadar glukosa darah.
Dengan kata lain, fungsi ozon dalam hal ini memiliki kesamaan karakter dengan
fungsi insulin.
Selain itu terapi ozon juga
menghambat dan mengatasi gejala-gejala diabetes
yang berkaitan dengan minimnya suplai oksigen. Efek positif lainnya, menurut
dr. E.E. Pavlovskaya ozon terapis dari Rusia, dapat menghilangkan rasa
sering haus, perbaikan frekwensi ke belakang di malam hari, dan hilangnya
gatal-gatal pada kulit dan badan lemas/loyo. Pasien-pasien yang menuntaskan
terapi ozon dapat menurunkan 20-25% penggunaan obat anti diabetik, dan efek
positif terapi ozon dapat bertahan hingga 3-6 bulan.
Infus dan hemodialisis
Pemberian terapi ini ada 2 cara
untuk 2 tipe DM. Menurut dr Fredi dari Stanford Medical Center Jakarta cara-cara itu yakni melalui sistem Autohemoterapi
(infus) dan Polyatomic
Oxygen Ozon Apheresis Therapy
(hemodialisis). Untuk mereka yang memilih terapi cara pertama ozon dilarutkan
ke dalam darah melalui selang infus. Cara ini menggunakan perantaraan cairan
NaCl yang diberi ozon (Ozonated Saline Infusion). Terapi dengan cara ini hanya
bisa dilakukan selama 20 kali setiap dua hari sekali.
Sedangkan cara kedua yang paling
mutakhir dengan cara mirip hemodialisis. Darah sang pasien ditarik melalui satu
lengan lalu diproses ozonisasi dan difilter di luar tubuh. Setelah selesai
kemudian dikembalikan lagi melalui lengan yang satunya. Dengan cara ini dosis
optimal yang lebih efektif bisa dicapai. Hal ini, kata Fredi, karena selama 1
jam terapi total jumlah darah yang diberi masukan oksigen-ozon bisa mencapai
3-4 liter.
Di banyak negara cara kedua telah
tercatat memberikan hasil yang memuaskan. Sebuah penelitian di National Institute of Angiology and Vascular Surgery di Havana dengan jumlah sampel 47 pasien yang menderita diabetes dengan komplikasi kaki diabetik dan amputasi dapat
diperlukan bila pasien tidak menunjukkan perbaikan. Pasien pada penelitian ini
sudah menderita diabetes selama 9-19 tahun yang dibagi dalam
3 grup dan diterapi dengan ozon selama 10 hari. Hasilnya, terbukti terapi ozon
efektif dalam mengatasi diabetes
dengan komplikasi kaki diabetik.
Terbukti Efektif
Meski terbukti efektif dan memuaskan
bukan berarti pengobatan ini boleh dilakukan tanpa pengobatan primer. Fredi tak
menyarankan hal itu. malah ia menyarankan agar pengobatan primer tetap diikuti.
Sebelum mengikuti terapi ini
biasanya ozon therapist akan melihat riwayat kesehatan pasien. Diabetisi akan
diperiksa kadar gula darah sebelum terapi. “Jika terlalu rendah tak disarankan
mengikuti terapi ini.” Selain itu fisik pun diperiksa jika ada keluhan
kesehatan lain tak diizinkan terapi.
Kondisi prima memang merupakan
syarat lainnya yang juga harus dipatuhi oleh peserta terapi ini. Hal ini
ditandai dengan kadar gula dan tekanan darah yang dalam batas normal. Jika
salah satu ada yang menunjukkan di bawah minimum atau sebaliknya tak akan
diberikan terapi. Yang lainnya yakni kekentalan darah. “Pasien yang mempunyai
darah terlalu encer pun tak bisa diberikan terapi ini.” Alasannya, “ozon
memberikan efek mengencerkan darah sehingga darah yang terlalu encer tak boleh
ikut.”
Sumber: parentsguide.co.id
No comments:
Post a Comment